Minggu, 24 Maret 2013

0

Penyesalan memang datang di akhir, jika di awal namanya peringatan!

Naif rasanya tidak mengakui keberadaan cinta. Jelas-jelas cinta itu ªϑª, nyata. Meskipun tak ªϑª seorang pun yang tahu bagaimana wujud cintam karena cinta tak berwujud, tak dapat di sentuh, hanya hati yang bisa merasakannya. Yah, itulah cinta yang kita kenal. Kadang, kenyataan tak semulus teori. Begitu pun cinta. Banyak yang bercerita bahwa cinta itu indah. Tapi tak kalah banyak juga yang bercerita cinta itu menyakitkan.
Untuk seorang Erlin cinta itu selalu indah diawal. Akhirnya? Selalu jadi rahasia Tuhan. Saat Tuhan mempertemukannya dengan seorang pria yang amat sangat baik, Adril, ia merasa beruntung dipertemukan dengan lelaki itu. Sudah tampan, baik, dan sangatlah sayang pada Erlin. Semenjak pertemuan pertama itu mereka dimabukkan oleh cinta pandangan pertama. Hubungan itu pun terjalin. Hari hari Erlin semakin indah dan berwarna karena hadirnya Adril. Layaknya sepasang remaja yang dilanda cinta, ya seperti itulah mereka.
Karena sibuk dengan kekasih barunya, Erlin hampir-hampir lupa pada sahabat-sahabatnya. Sahabat yang biasanya menemani dia di kala sepi. Sore itu, Erlin menjumpai kedua sahabatnya. Mereka tengah asik menikmati secangkir kopi di hadapannya di suatu cafe tempat nongkrong anak seusia mereka. Erlin menghampiri mereka dengan wajah semraut.
"Apa harus selalu wajah itu yg kita liat, kalo kamu dateng?", komentar Icha.
"Maafin aku temen-temen, bukannya aku lupa atau apa, tapi ya emang aku keasikan sama Adril" nada Erlin merendah.
"Kalo asik sama Adril, itu muka kenapa?" Tanya Nia.
"Dilema nih,"
"Apa yang dilemanya?!" Icha mulai meninggi, karena kekesalannya pada Erlin yang beberapa bulan ini asik dengan Adril dan sekarang datang dengan masalah-masalahnya(lagi).
"Santai dong cha, gini nih, ªϑª cowok yang deketin aku nih, namanya Uki. Dia keren, ganteng, banyak yang suka lagi." Jelas Erlin.
"Terus?" Icha dan Nia berbarengan.
"Apa aku putusin Adril aja, trus jadian sama Uki deh? Gapapa kali yah? Hehehe" enteng Erlin.
 ***
Persepsi Erlin tentang makna cinta, memang benar adanya. Bagi Adril, kisah cintanya dengan Erlin memang indah, setidaknya hanya diawal. Akhirnya, Adril harus merasakan menjadi taman yang tengah berbunga mekar yang kemudian di babat habis oleh mesin pemotong tanaman tanpa perasaan. Habis, berantakan, dan mati. Tapi untungnya, masih ªϑª bunga indah yang tersisa. Bunga itu mendapat perawat yang amat menjaganya. Perawat bunga itu membawanya ke tempat lain, tempat yang lebih indah. Tentu saja, bunga indah itu tumbuh menjadi bunga yang semakin indah, yang lebih indah dari bunga di taman manapun. Siapa perawat bunga baru itu? Icha. Ya, tepat. Icha sahabat baiknya Erlin. Kadang, saat seseorang merasa dikecewakan oleh yang lain dan saat ia menemukan orang yg salah, maka orang itu akan menjadi pelampiasan kekecewaannya. Namun, jika seseorang itu menemukan orang yang tepat. Orang yang bisa menenangkannya. Maka orang itu akan menjadi nyawanya yang kedua. Bisa saja orang itu menjadi satu-satunya dalam hidupnya.
Saat-saat kehancuran itu, Adril menemukan Icha. Icha yang mampu membuatnya merasa hidup lagi. Icha alasan kenapa dia harus melanjutkan hidup ini. Tak ªϑª sedikit pun niatan Icha untuk aji mumpung mengisi hati Adril yang kecewa karena Erlin, sahabatnya itu. Icha hanya ingin di saat-saat Adril kecewa, ªϑª orang yang mau menjadi teman berbaginya. Namun ternyata, Adril merasa lebih dari itu. Adril merasa nyaman dengan kehangatan yang Icha berikan. Hingga akhirnya, jatuh cinta (lagi). Icha adalah sahabat yang baik. Sekesal apa pun dia pada sahabat-sahabatnya, tetap dia katakan tidak untuk menyakiti sahabatnya. Apalagi Erlin. Berkali-kali ia menolak cinta Adril. Tak dipungkiri, Adril memang sosok lelaki yang ia cari selama ini. Apalagi setelah selama ini dekat, ia semakin kenal akan Adril yang semakin ketahuan bahwa dia memang lelaki baik-baik. Bisa ditebak, dengan cara Icha memuji-muji Adril seperti barusan, dia ªϑª rasa. Meskipun itu baru sedikit, tapi rasa itu mulai tumbuh. Dulu bunga indah itu sendiri, kini mulai tumbuh bunga lain. Masih kuncup. Icha berpikir, apakah ia akan memekarkan bunga ini, atau ia akan memangkasnya.
Sampai saatnya Erlin tahu soal ini. Tentu, dia marah besar. Karena apa? Uki, lelaki yang dulu ia pilih dan meninggalkan Adril, tidak jauh lebih baik dari Adril. Menyesallah Erlin. Dan sekarang, Adril telah menemukan seseorang yang ia butuhkan. Makin besar rasa penyesalan itu. Namun, Erlin pun yakin, jika ia kembali pada Adril, lelaki itu tidak akan mudah untuk menerima Erlin kembali. Bahkan mungkin, Erlin ditolak mentah-mentah. Kini Erlin kehabisan akal, alam sadarnya menyadarkannya. Semua ini salahnya, semua ini ia yang buat. Tuhan telah berbaik padanya, mempertemukannya dengan seorang lelaki yang baiknya minta ampun. Tapi apa yang Erlin lakukan? Dia tinggalkan Adril demi seorang lelaki yang dia pun tak tahu sebenarnya lelaki itu seperti apa. Dan saat ini, lelaki yang dia tinggalkan sudah menemukan apa yang dia cari selama itu, dan yang dia temukan adalah sahabat baiknya. Menyesal? Pasti. Perempuan mana yang tak akan menyesal jika hal ini terjadi padanya. Tapi apa karena ia menyesal Adril dapat kembali ke pelukannya? Nampaknya tidak.
 Kini yang ia syukuri adalah Adril lelaki baik hati yang dulu mencintainya dan sempat mengisi hari-harinya telah bersama dengan Icha, perempuan yang telah ia kenal 3 tahun lebih. Mereka pantas bersama. Meskipun kebersamaan mereka harus menyakiti hatinya sendiri.
~The end~

0 komentar:

Posting Komentar