Pandangan itu adalah pertama. Tatapannya mendalam, dari mata
terus ke hati dan menjalar ke seluruhnya. Perempuan itu melumpuhkannya saat ia
menghentikan motornya tepat di hadapan perempuan itu. Tak ada yang bisa ia
lakukan saat itu, ia hanya bisa menatap keindahan yang telah Tuhan ciptakan
itu. Ia pun tak bisa berlama-lama menatapnya karena Hari, temannya yang ia
antar untuk menjemput kekasihnya sudah mengajaknya untuk pulang. Putra pun
pergi meninggalkan tempat itu beserta perempuan yang tadi ia lihat. Perempuan
itu sama sekali tidak mengetahui bahwa Putra telah mengamatinya selama ia
berada disana.
Kejadian tadi sangat menganggu pikirannya, ia penasaran
siapa perempuan itu? Akhirnya ia tak tanggung-tanggung menanyakan hal tersebut pada kekasih temannya itu, Hari
yang bernama Aini. Dalam pikirnya, Aini tadi bersama perempuan itu pastilah ia
mengenal siapa dia. Dan dugaannya sangat tepat, perempuan yang tadi ia lihat
adalah sahabat dekatnya Aini.
Putra pun berkenalan dengan sahabatnya Aini. Awalnya mereka
saling canggung, bahasa yang digunakan saja masih sangat baku. Mereka berlaku
sebagaimana mestinya teman, artinya tidak setiap saat mereka berkomunikasi
saling mengkabari satu sama lain.
Minggu pertama kenalan, belum ada yang aneh. Masih bersifat
sangat formal. Sedikit membosankan untuk kita yang melihatnya. SMS pun isinya
hanya tentang pertanyaan-pertanyaan
biasa, layaknya teman.
Minggu kedua kenalan, mereka berkomunikasi tidak hanya via
SMS tapi sudah berlanjut ke via TELEPON. Saling mendengar suara merdu
masing-masing. Tapi tetap belum mengenal
jauh satu sama lain. Namun, ada fakta mengejutkan yang perempuan itu
temukan pada Putra. Ternyata Putra itu satu angkatan lebih muda daripada dia.
Saat ini perempuan itu duduk di kelas 3 SMA sedangkan Putra duduk di kelas 2
SMA . tapi anehnya Putra tetap merasa dia yang lebih tua karena memang
kenyataannya Putra lahir lebih dulu dibanding perempuan itu.
Minggu ketiga kenalan, mereka dipertemukan kembali. Putra
memang sudah tahu bagaimana mempesonanya perempuan itu. Sedangkan untuk
perempuan itu, sebut saja Nava belum mengetahui sama sekali bagaimana Putra itu
berwujud. Jadi pertemuan pertama ini sangatlah menegangkan untuk Nava. Dan saat
pertemuan pertama itu terjadi…
“kamu Putra? ”
“iya, Nava kan? Kenapa kaget?”
“ngga, baru tahu aja aja.”
“mau yah aku ajak jalan-jalan? Pokonya harus mau. Ayo naik
cepet.”
Dari sini bisa dilihat kalau karakter Putra itu, pemaksa
tapi tidak kasar. Pertemuan pertama itu menjadi sangat momentum untuk keduanya.
Hingga Nava bercerita pada Aini melalui SMS:
Sumpah, Putra tuh beda
banget sama yang aku kenal di sms. Dia tuh asik banget. Kalo di sms, dia tuh
cueeeeek banget, tanpa emoticon. Tapi aslinya ga gitu. Dan yang paling penting
itu, dia GANTENG ni. Thanks ya udah ngenalin aku sama dia J
.
Aini pun membalas:
Kamu ga percaya sih.
Aku kan udah berkali-kali bilang sama kamu, kalo dia tuh ganteng, baik lagi,
dia kan temen cowo aku, seenggaknya cowo aku tau kelakuan dia gimana. Iya, sama
sama, have a nice relationship sis J
Ini awal yang sangat baik untuk Nava, kebetulan dia
memang sedang ‘sendiri’ dan sosok seperti itulah yang saat ini dia harapkan.
Hari-harinya terjadi sangat indah, masih tetap berteman, belum ada masalah dan
belum ada kelanjutan yang pasti. Nava pikir, kali ini dia tak perlu
terburu-buru untuk hasil yang memuaskan. Makanya dia sabar dengan status
hubungan seperti ini. Karena memang Putra bisa membuat dia nyaman dengan
seperti ini.
Minggu kesekian kenalan,
mereka semakin dekat saja. Mereka mulai menemukan banyak kesamaan
diantaranya. Mulai saling mencari jika salah satu tak ada. Mulai merasa
khawatir jika terjadi sesuatu pada salah satunya. Mulai mempermasalahkan jika
ada yang telat makan ataupun telat pulang. Mulai merasa risau nan gelisah saat
salah satu diantara mereka ada yang tak membalas sms. Itulah mereka, masih
dengan status ‘teman’. Aneh. Hingga tiba di suatu hari, Nava meminta Putra
untuk mengantarnya ke rumah sahabat lamanya.
“bukannya aku ga mau antar kamu besok, tapi aku ga bisa.”
“emangnya ada apa sih? Bukannya minggu itu hari libur yah?
Masa ga bisa sih?’
“iya, tapi kamu mintanya pagi. Aku ga bisa.”
“iya kenapa?”
“jam 8:30 sampai jam 10:00 aku harus ibadah di Gereja dekat
sekolah.”
“apa?”
“iya, aku kristiani.”
…..
“kenapa? Kaget kalo aku bukan muslim? Kamu mau jauhin aku?”
“tapi selama ini kamu sering ingetin aku solat, ngaji. Aku
pikir..”
“terus kalo gini kamu mau apa?”
“ak… aku.. aku ga tau.”
To be continued
0 komentar:
Posting Komentar