Saat saat seperti ini, sunyi
rasanya. Hanya gemuruh angin dan derasnya hujan yg menemaninya. Mungkin sekilas
mata, lingkungannya sangatlah ramai. Tapi hatinya tidak. Ia sendiri, sepi tak
berteman. Bukan menutup diri, tapi memang itu yang sebenarnya. Ia punya banyak
teman, tapi saat ini ia merasa sepi. Hatinya kosong, tak berisi. Telah lama tak
berpenghuni. Nyaris mati. Entah masih bisa entah tidak ia merasakan getaran
getaran cinta saat ia bersama seorang lelaki. Bukan karena tak tertarik lagi.
Tapi karena hatinya yang telah lama mati. Bisakah hidup lagi? Hanya waktu yang
bisa menjawab.
Hatinya lelah, dipermainkan
oleh cinta, dibohongi oleh cinta, disakiti, dikhianati oleh cinta juga. Cinta
yang memang kejam, atau memang dia manusia tolol yang mudah dijadikan mainan?
Cinta itu keindahan. Cinta
itu tidak menyakiti. Cinta itu anugerah dari Tuhan yang Maha Esa. Tapi persepsi
itu ditepisnya. Karena ia tidak merasakan itu! Ia hanya merasakan kesakitan
yang amat dalam. Luka yang tak kunjung mengering. Pengalaman yang dialaminya
cukup membuat dia nyaris tak percaya cinta. Tidak hanya tentang dia, namun
begitu juga dengan keluarganya. Jika memang cinta itu indah, mengapa
keluarganya bisa berantakan seperti ini? Tak ªϑª sedikitpun keindahan itu
tampak dalam mahligai rumah tangga orangtuanya. Semuanya bagaikan omong kosong.
Ibunya berjalan sendiri, ayahnya masih tertatih meraih sang ibu. Tak kunjung
bersatu. Dia pun sudah bosan melihatnya. Yang dia pikirkan saat ini, dia hidup,
dia punya uang, dia berpendidikan, dan dia sukses. Itu prinsipnya.
Sesekali dia pun bermain dengan cinta. Tapi hasilnya? Sakit hati (lagi)
sakit hati (terus). Sebenarnya, siapa yang salah? Cintakah atau manusia? Jika
memang cinta yang salah, kenapa Tuhan membiarkan makhluknya untuk saling jatuh
cinta? Mungkin, memang manusia yang
selalu salah. Salah menaptikan. Hingga akhirnya, cintalah yang disalahkan.
Sepertinya dunia ini akan lebih aman, jika tidak ªϑª kata "jatuh
cinta"
0 komentar:
Posting Komentar