Minggu, 12 Mei 2013

0

tak disangka (1)



Pandangan itu adalah pertama. Tatapannya mendalam, dari mata terus ke hati dan menjalar ke seluruhnya. Perempuan itu melumpuhkannya saat ia menghentikan motornya tepat di hadapan perempuan itu. Tak ada yang bisa ia lakukan saat itu, ia hanya bisa menatap keindahan yang telah Tuhan ciptakan itu. Ia pun tak bisa berlama-lama menatapnya karena Hari, temannya yang ia antar untuk menjemput kekasihnya sudah mengajaknya untuk pulang. Putra pun pergi meninggalkan tempat itu beserta perempuan yang tadi ia lihat. Perempuan itu sama sekali tidak mengetahui bahwa Putra telah mengamatinya selama ia berada disana.
Kejadian tadi sangat menganggu pikirannya, ia penasaran siapa perempuan itu? Akhirnya ia tak tanggung-tanggung menanyakan  hal tersebut pada kekasih temannya itu, Hari yang bernama Aini. Dalam pikirnya, Aini tadi bersama perempuan itu pastilah ia mengenal siapa dia. Dan dugaannya sangat tepat, perempuan yang tadi ia lihat adalah sahabat dekatnya Aini.
Putra pun berkenalan dengan sahabatnya Aini. Awalnya mereka saling canggung, bahasa yang digunakan saja masih sangat baku. Mereka berlaku sebagaimana mestinya teman, artinya tidak setiap saat mereka berkomunikasi saling mengkabari satu sama lain.
Minggu pertama kenalan, belum ada yang aneh. Masih bersifat sangat formal. Sedikit membosankan untuk kita yang melihatnya. SMS pun isinya hanya  tentang pertanyaan-pertanyaan biasa, layaknya teman.
Minggu kedua kenalan, mereka berkomunikasi tidak hanya via SMS tapi sudah berlanjut ke via TELEPON. Saling mendengar suara merdu masing-masing. Tapi tetap belum mengenal  jauh satu sama lain. Namun, ada fakta mengejutkan yang perempuan itu temukan pada Putra. Ternyata Putra itu satu angkatan lebih muda daripada dia. Saat ini perempuan itu duduk di kelas 3 SMA sedangkan Putra duduk di kelas 2 SMA . tapi anehnya Putra tetap merasa dia yang lebih tua karena memang kenyataannya Putra lahir lebih dulu dibanding perempuan itu.
Minggu ketiga kenalan, mereka dipertemukan kembali. Putra memang sudah tahu bagaimana mempesonanya perempuan itu. Sedangkan untuk perempuan itu, sebut saja Nava belum mengetahui sama sekali bagaimana Putra itu berwujud. Jadi pertemuan pertama ini sangatlah menegangkan untuk Nava. Dan saat pertemuan pertama itu terjadi…
“kamu Putra? ”
“iya, Nava kan? Kenapa kaget?”
“ngga, baru tahu aja aja.”
“mau yah aku ajak jalan-jalan? Pokonya harus mau. Ayo naik cepet.”
Dari sini bisa dilihat kalau karakter Putra itu, pemaksa tapi tidak kasar. Pertemuan pertama itu menjadi sangat momentum untuk keduanya. Hingga Nava bercerita pada Aini melalui SMS:
Sumpah, Putra tuh beda banget sama yang aku kenal di sms. Dia tuh asik banget. Kalo di sms, dia tuh cueeeeek banget, tanpa emoticon. Tapi aslinya ga gitu. Dan yang paling penting itu, dia GANTENG ni. Thanks ya udah ngenalin aku sama dia J .
Aini pun membalas:
Kamu ga percaya sih. Aku kan udah berkali-kali bilang sama kamu, kalo dia tuh ganteng, baik lagi, dia kan temen cowo aku, seenggaknya cowo aku tau kelakuan dia gimana. Iya, sama sama, have a nice relationship sis J
Ini awal  yang sangat baik untuk Nava, kebetulan dia memang sedang ‘sendiri’ dan sosok seperti itulah yang saat ini dia harapkan. Hari-harinya terjadi sangat indah, masih tetap berteman, belum ada masalah dan belum ada kelanjutan yang pasti. Nava pikir, kali ini dia tak perlu terburu-buru untuk hasil yang memuaskan. Makanya dia sabar dengan status hubungan seperti ini. Karena memang Putra bisa membuat dia nyaman dengan seperti ini.
Minggu kesekian kenalan,  mereka semakin dekat saja. Mereka mulai menemukan banyak kesamaan diantaranya. Mulai saling mencari jika salah satu tak ada. Mulai merasa khawatir jika terjadi sesuatu pada salah satunya. Mulai mempermasalahkan jika ada yang telat makan ataupun telat pulang. Mulai merasa risau nan gelisah saat salah satu diantara mereka ada yang tak membalas sms. Itulah mereka, masih dengan status ‘teman’. Aneh. Hingga tiba di suatu hari, Nava meminta Putra untuk mengantarnya ke rumah sahabat lamanya.
“bukannya aku ga mau antar kamu besok, tapi aku ga bisa.”
“emangnya ada apa sih? Bukannya minggu itu hari libur yah? Masa ga bisa sih?’
“iya, tapi kamu mintanya pagi. Aku ga bisa.”
“iya kenapa?”
“jam 8:30 sampai jam 10:00 aku harus ibadah di Gereja dekat sekolah.”
“apa?”
“iya, aku kristiani.”
…..
“kenapa? Kaget kalo aku bukan muslim? Kamu mau jauhin aku?”
“tapi selama ini kamu sering ingetin aku solat, ngaji. Aku pikir..”
“terus kalo gini kamu mau apa?”
“ak… aku.. aku ga tau.”
To be continued

Minggu, 24 Maret 2013

0

Penyesalan memang datang di akhir, jika di awal namanya peringatan!

Naif rasanya tidak mengakui keberadaan cinta. Jelas-jelas cinta itu ªϑª, nyata. Meskipun tak ªϑª seorang pun yang tahu bagaimana wujud cintam karena cinta tak berwujud, tak dapat di sentuh, hanya hati yang bisa merasakannya. Yah, itulah cinta yang kita kenal. Kadang, kenyataan tak semulus teori. Begitu pun cinta. Banyak yang bercerita bahwa cinta itu indah. Tapi tak kalah banyak juga yang bercerita cinta itu menyakitkan.
Untuk seorang Erlin cinta itu selalu indah diawal. Akhirnya? Selalu jadi rahasia Tuhan. Saat Tuhan mempertemukannya dengan seorang pria yang amat sangat baik, Adril, ia merasa beruntung dipertemukan dengan lelaki itu. Sudah tampan, baik, dan sangatlah sayang pada Erlin. Semenjak pertemuan pertama itu mereka dimabukkan oleh cinta pandangan pertama. Hubungan itu pun terjalin. Hari hari Erlin semakin indah dan berwarna karena hadirnya Adril. Layaknya sepasang remaja yang dilanda cinta, ya seperti itulah mereka.
Karena sibuk dengan kekasih barunya, Erlin hampir-hampir lupa pada sahabat-sahabatnya. Sahabat yang biasanya menemani dia di kala sepi. Sore itu, Erlin menjumpai kedua sahabatnya. Mereka tengah asik menikmati secangkir kopi di hadapannya di suatu cafe tempat nongkrong anak seusia mereka. Erlin menghampiri mereka dengan wajah semraut.
"Apa harus selalu wajah itu yg kita liat, kalo kamu dateng?", komentar Icha.
"Maafin aku temen-temen, bukannya aku lupa atau apa, tapi ya emang aku keasikan sama Adril" nada Erlin merendah.
"Kalo asik sama Adril, itu muka kenapa?" Tanya Nia.
"Dilema nih,"
"Apa yang dilemanya?!" Icha mulai meninggi, karena kekesalannya pada Erlin yang beberapa bulan ini asik dengan Adril dan sekarang datang dengan masalah-masalahnya(lagi).
"Santai dong cha, gini nih, ªϑª cowok yang deketin aku nih, namanya Uki. Dia keren, ganteng, banyak yang suka lagi." Jelas Erlin.
"Terus?" Icha dan Nia berbarengan.
"Apa aku putusin Adril aja, trus jadian sama Uki deh? Gapapa kali yah? Hehehe" enteng Erlin.
 ***
Persepsi Erlin tentang makna cinta, memang benar adanya. Bagi Adril, kisah cintanya dengan Erlin memang indah, setidaknya hanya diawal. Akhirnya, Adril harus merasakan menjadi taman yang tengah berbunga mekar yang kemudian di babat habis oleh mesin pemotong tanaman tanpa perasaan. Habis, berantakan, dan mati. Tapi untungnya, masih ªϑª bunga indah yang tersisa. Bunga itu mendapat perawat yang amat menjaganya. Perawat bunga itu membawanya ke tempat lain, tempat yang lebih indah. Tentu saja, bunga indah itu tumbuh menjadi bunga yang semakin indah, yang lebih indah dari bunga di taman manapun. Siapa perawat bunga baru itu? Icha. Ya, tepat. Icha sahabat baiknya Erlin. Kadang, saat seseorang merasa dikecewakan oleh yang lain dan saat ia menemukan orang yg salah, maka orang itu akan menjadi pelampiasan kekecewaannya. Namun, jika seseorang itu menemukan orang yang tepat. Orang yang bisa menenangkannya. Maka orang itu akan menjadi nyawanya yang kedua. Bisa saja orang itu menjadi satu-satunya dalam hidupnya.
Saat-saat kehancuran itu, Adril menemukan Icha. Icha yang mampu membuatnya merasa hidup lagi. Icha alasan kenapa dia harus melanjutkan hidup ini. Tak ªϑª sedikit pun niatan Icha untuk aji mumpung mengisi hati Adril yang kecewa karena Erlin, sahabatnya itu. Icha hanya ingin di saat-saat Adril kecewa, ªϑª orang yang mau menjadi teman berbaginya. Namun ternyata, Adril merasa lebih dari itu. Adril merasa nyaman dengan kehangatan yang Icha berikan. Hingga akhirnya, jatuh cinta (lagi). Icha adalah sahabat yang baik. Sekesal apa pun dia pada sahabat-sahabatnya, tetap dia katakan tidak untuk menyakiti sahabatnya. Apalagi Erlin. Berkali-kali ia menolak cinta Adril. Tak dipungkiri, Adril memang sosok lelaki yang ia cari selama ini. Apalagi setelah selama ini dekat, ia semakin kenal akan Adril yang semakin ketahuan bahwa dia memang lelaki baik-baik. Bisa ditebak, dengan cara Icha memuji-muji Adril seperti barusan, dia ªϑª rasa. Meskipun itu baru sedikit, tapi rasa itu mulai tumbuh. Dulu bunga indah itu sendiri, kini mulai tumbuh bunga lain. Masih kuncup. Icha berpikir, apakah ia akan memekarkan bunga ini, atau ia akan memangkasnya.
Sampai saatnya Erlin tahu soal ini. Tentu, dia marah besar. Karena apa? Uki, lelaki yang dulu ia pilih dan meninggalkan Adril, tidak jauh lebih baik dari Adril. Menyesallah Erlin. Dan sekarang, Adril telah menemukan seseorang yang ia butuhkan. Makin besar rasa penyesalan itu. Namun, Erlin pun yakin, jika ia kembali pada Adril, lelaki itu tidak akan mudah untuk menerima Erlin kembali. Bahkan mungkin, Erlin ditolak mentah-mentah. Kini Erlin kehabisan akal, alam sadarnya menyadarkannya. Semua ini salahnya, semua ini ia yang buat. Tuhan telah berbaik padanya, mempertemukannya dengan seorang lelaki yang baiknya minta ampun. Tapi apa yang Erlin lakukan? Dia tinggalkan Adril demi seorang lelaki yang dia pun tak tahu sebenarnya lelaki itu seperti apa. Dan saat ini, lelaki yang dia tinggalkan sudah menemukan apa yang dia cari selama itu, dan yang dia temukan adalah sahabat baiknya. Menyesal? Pasti. Perempuan mana yang tak akan menyesal jika hal ini terjadi padanya. Tapi apa karena ia menyesal Adril dapat kembali ke pelukannya? Nampaknya tidak.
 Kini yang ia syukuri adalah Adril lelaki baik hati yang dulu mencintainya dan sempat mengisi hari-harinya telah bersama dengan Icha, perempuan yang telah ia kenal 3 tahun lebih. Mereka pantas bersama. Meskipun kebersamaan mereka harus menyakiti hatinya sendiri.
~The end~

Minggu, 17 Maret 2013

0

My Chemical Romance


Turn away,
If you could get me a drink
Of water 'cause my lips are chapped and faded
Call my aunt Marie
Help her gather all my things
And bury me in all my favorite colors,
My sisters and my brothers, still,
I will not kiss you,
'Cause the hardest part of this is leaving you.

Now turn away,
'Cause I'm awful just to see
'Cause all my hairs abandoned all my body,
Oh, my agony,
Know that I will never marry,
Baby, I'm just soggy from the chemo
But counting down the days to go
It just ain't living
And I just hope you know

That if you say (if you say)
Goodbye today (goodbye today)
I'd ask you to be true (cause I'd ask you to be true)

'Cause the hardest part of this is leaving you
'Cause the hardest part of this is leaving you

0

Cinta? Omong Kosong?!





Saat saat seperti ini, sunyi rasanya. Hanya gemuruh angin dan derasnya hujan yg menemaninya. Mungkin sekilas mata, lingkungannya sangatlah ramai. Tapi hatinya tidak. Ia sendiri, sepi tak berteman. Bukan menutup diri, tapi memang itu yang sebenarnya. Ia punya banyak teman, tapi saat ini ia merasa sepi. Hatinya kosong, tak berisi. Telah lama tak berpenghuni. Nyaris mati. Entah masih bisa entah tidak ia merasakan getaran getaran cinta saat ia bersama seorang lelaki. Bukan karena tak tertarik lagi. Tapi karena hatinya yang telah lama mati. Bisakah hidup lagi? Hanya waktu yang bisa menjawab.
Hatinya lelah, dipermainkan oleh cinta, dibohongi oleh cinta, disakiti, dikhianati oleh cinta juga. Cinta yang memang kejam, atau memang dia manusia tolol yang mudah dijadikan mainan?
Cinta itu keindahan. Cinta itu tidak menyakiti. Cinta itu anugerah dari Tuhan yang Maha Esa. Tapi persepsi itu ditepisnya. Karena ia tidak merasakan itu! Ia hanya merasakan kesakitan yang amat dalam. Luka yang tak kunjung mengering. Pengalaman yang dialaminya cukup membuat dia nyaris tak percaya cinta. Tidak hanya tentang dia, namun begitu juga dengan keluarganya. Jika memang cinta itu indah, mengapa keluarganya bisa berantakan seperti ini? Tak ªϑª sedikitpun keindahan itu tampak dalam mahligai rumah tangga orangtuanya. Semuanya bagaikan omong kosong. Ibunya berjalan sendiri, ayahnya masih tertatih meraih sang ibu. Tak kunjung bersatu. Dia pun sudah bosan melihatnya. Yang dia pikirkan saat ini, dia hidup, dia punya uang, dia berpendidikan, dan dia sukses. Itu prinsipnya.
Sesekali dia pun bermain dengan cinta. Tapi hasilnya? Sakit hati (lagi) sakit hati (terus). Sebenarnya, siapa yang salah? Cintakah atau manusia? Jika memang cinta yang salah, kenapa Tuhan membiarkan makhluknya untuk saling jatuh cinta?  Mungkin, memang manusia yang selalu salah. Salah menaptikan. Hingga akhirnya, cintalah yang disalahkan. Sepertinya dunia ini akan lebih aman, jika tidak ªϑª kata "jatuh cinta"

Rabu, 13 Maret 2013

0

mulanyaaaaa


Ini hanya sebuah cerita, cerita yg tak kunjung usai tertuliskan oleh pena. Terus tergoreskan dalam sebuah kertas. Mengalun kata kata indah di dalamnya. Tapi untuk apa kata kata indah itu terlantunkan jika memang tak ada seorang pun yg membacanya, ataupun hanya sekedar melirik. Si penulis hanya ingin emosinya terluapkan dalam alunan syair. Tidak meletup meletup tak menentu seperti seorang pemabuk yg kehilangan kendali. Ada hasil yg di capai saat emosi itu meluap. Mengungkapkan tak bisa, ya menulislah yang ia mampu. Ini berawal sejak ia kebingungan mencari tempat untuk berbagi. Berbagi tawa, kebahagiaan, kegelisahan, atau bahkan tangisan sekali pun. Bukannya ia tak percaya pada sahabat sahabat terdekatnya. Yang ia takutkan hanyalah, sahabatnya akan merasa bosan, jenuh, kesal, sebal akan dia yg selalu mengoceh tentang hidupnya. Cukuplah sahabatnya tahu tentang kebahagiaan dirinya.
Saat ia merasa sendiri, kesepian tak berteman, kertas dan penalah yg ia datangi. Mulailah ia menulis. Menulis apa saja. Semua yang ia ingin ceritakan yg ia tak bisa ceritakan pada sahabatnya.
Kadang, tidak semua hal bisa kita bagi dengan orang terdekat. Ada kalanya, orang hanya baik tampak depan, sedangkan masih ada sisi lain yg belum bisa kita lihat. Sama sekali tidak berniat untuk berburuk sangka kepada siapa pun. Namun ada baiknya, antisipasi. Manusia kan makhluk yg setiap detiknya bisa berubah.
Kali ini, yang terbaca dari lembaran kertas yg ia tulis itu berisi ketidak peduliannya terhadap tanggapan orang kepadanya. Ia tak pernah peduli pada siapa pun yg berniat hanya "mengusiknya" saja. Tak sedikit ucapan orang lain yg ia hiraukan begitu saja. Ia juga tak pernah peduli jika memang banyak orang yg membencinya. Karna orang lain tak tahu, apa yg tengah di alaminya. Orang lain tak tahu apa isi hati dan pikirannya. Sahabat sendirinya pun belum tentu tahu yg sebenarnya tentang dia. Bukan maksudnya untuk bertopeng di muka sahabatnya. Prinsipnya, untuk apa bersedih sedih membuat orang sekitarnya kasihan, iba, tak tega terhadapnya. Itu bukan yg dia inginkan. Dia hanya ingin merasakan indahnya hidup menikmati masa muda dengan segudang kelakuan nakal yg sewajarnya. Dia tak mungkin melewatkan masa muda ini untuk kedua kalinya. Just enjoy it.